Kisah putri raja dengan darwis

Seorang raja mempunya putri yang cantik secantik bulan, yang dicintai oleh setiap orang. Nafsu terbangkit oleh matanya yang mengantuk sayu dan membius manis kehadirannya. Wajahnya seputih kapur barus, rambutnya hitam kesturi. Kecemburuan bibirnya mengeringkan permata air terindah, sedang gula pun cair disana karena malu.

Karena kehendak nasib seorang darwis sempat melihat putri itu sepintas, dan roti yang dipegangnya pun jatuh dari tangannya. Putri itu melintasinya bagai nyala api, dan ketika melintas, putri itu tertawa. Melihat ini, darwis itu terjatuh di atas debu, hampir mati. Ia tidak dapat merasa tenang, baik siang maupun malam, dan ia pun menangis berkepanjangan. Bila teringat akan senyuman putri itu, ia mengucurkan airmata bagai awan menjatuhkan air hujan. Cinta yang garang ini berlangsung terus selama tujuh tahun lamanya, dan selama itu ia hidup dijalanan bersama anjing-anjing. Akhirnya para dayang sang putri memutuskan untuk membunuh darwis tersebut. Tetapi sang putri itu berbicara padanya dengan diam-diam; katanya, “mana mungkin akan ada hubungan yang mesra antara kau dengan aku? Pergilah lekas, atau kau akan dibunuh nanti; jangan tinggal lagi di pintuku, tetapi bangkitlah pergi.”

Darwis malang itu menjawab, “pada hari ketika hamba jatuh cinta pada tuanku putri, hamba bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri kehariban keindahan tuan. Karena para dayang tuan hendak membunuh hamba secara tidak adil, maka jawablah kiranya pertanyaan hamba yang biasa ini. Pada hari ketika tuan menjadi sebab bagi kematian hamba, mengapa tersenyum pada hamba?” “ oh kau sidungu,” kata putri itu,”ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan dirimu sendiri, aku tersenyum karena kasihan. Aku sengaja tersenyum kasihan bukan karena hendak mencemooh.” Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri.

Tinggalkan sebuah Komentar